Wednesday, March 7, 2018

DIAMONA



Diamona.
Oleh : Jepri Simanjuntak

                Langkah kaki itu beriringan berjalan cepat menuju gereja, tatkala rintik hujan memaksa diri untuk mempercepat jalan agar tidak basah terkena air hujan. Malam ini sepertinya banyak pendatang baru, wajar karena ini adalah awal semester. ku ambil payung hijauku dari lemari asrama, begitu ku lebarkan  payungku di depan pintu asrama, abunya beterbangan. Lantas aku terbersin-bersin. Kesal dengan payung yang sudah terlalu lama beristirahat di lemari.
                Lalu aku berangkat menuju gereja, 100 meter jaraknya dari asrama. Amang guru yang memimpin ibadah PA malam ini, biasanya sesudah PA akan diadakan latihan Koor Naposo, tetapi malam ini karena banyak pendatang baru maka diadakan sesi perkenalan sebelum dibagikan partitur koor. Rupanya ada sekitar 20an anak baru yang masuk Naposo gereja ini. Bosan dengan situasi, aku keluar sebentar dan menyulut rokok sampoerna kesukaanku di iringi hujan yang sejuk malam ini.
                Tidak lama kemudian sesi perkenalan selesai, namun naposo yang tergolong skuad lama menuntut untuk bersantai dulu malam ini dengan obrolan ringan tanpa harus bergelut dengan partitur koor yang cenderung membuat bosan. Amang guru sepertinya mau tak mau harus setuju.  Bisik-bisik mulai tersebar dengan adanya pesona baru yang hadir malam ini. Malam minggu ini mungkin serasa sial bagi para pasangan diluar sana karena hujan yang mengganggu suasana, namun di gereja ini para pemuda yang tengah dalam masa puber ini merasa beruntung dengan hadirnya pesona-pesona baru. Hanya menunggu waktu, mungkin 1 bulan atau 2 bulan kemudian akan ada pasangan-pasangan baru.
                Selalu begitu, dua tahun terlibat dalam komunitas ini sering hanya membuatku tersenyum risih. Semua terlihat seperti semu dan romantisme yang dibingkai oleh PA dan latihan Koor. Merasa terasing, lalu diasingkan hingga kemudian asik sendiri, aku tidak terlalu peduli lagi dengan sekitarku. Mungkin saja hingga detik ini, hanya sendiriku yang jomblo, kalaupun ada yang belum pacaran minimal pasti lagi pedekate. Magnet antara dua jenis yang berbeda ini begitu kuat ditempat ini, mungkin Tuhan menempatkan Santo Valentinus sebagai pelindung tempat ibadah ini.
                Hanya sebentar gabung ke dalam ruangan gereja, tak lama kemudian aku melangkah keluar. Mereka sibuk dengan percakapan masing-masing, dalam beberapa kelompok cerita yang terpisah-pisah. Ku lanjutkan kemesraanku dengan sampoernaku sampai kemudian ada suara yang tiba-tiba menyapa dari belakangku.
                “sendirian?”
                “iya, seperti yang kau lihat”
                “Mona”  dia mengulurkan tangannya, “Diamona” katanya kemudian.
                “Diamona?, Mungkinkah berlian? “
                “iya” dia tersenyum.
                Lalu tanpa sungkan dia duduk disampingku. Langsung ku buang rokokku ke genangan air hujan.
                “Namamu?”
                “pentingkah?”
                “ngga adil dong, cuman aku yang ngenalin diri”
                “lah, yang nyuruh kenalan siapa?”
                “ngga ada yang nyuruh sih”
                “Jerikho, biasa dipanggil Jeri” tandasku.
                “Jeri sudah lama gabung naposo disini?”
                “sudah”
                “kok ngga gabung sama yang lain?”
                “bosan aja”.
                “jeri, boleh pinjam payungmu?”
                “Kemana?”
                “Minimarket, mau beli obat! Maagku kambuh”.
                Sedikit rasa sesal ada di hati, aku tahu dia memang cantik namun dia mendekatiku dengan tujuan meminjam payung yang mungkin sudah dilihatnya dari tadi.
                “memangnya kamu ngga bawa payung?”
                “bawa sih, tapi payungmu warnanya biru”
                “lah, warna kok jadi alasan. Biru kenapa?”
                “mau nya minjamkan? Klo ngga bisa ngga apa-apa kok Jer!”
                Sedikit kesal dengan tingkahnya yang seolah sudah lama mengenal, ku berikan payung biru itu kepadanya.
                “ada kawanmu jalan kesana?”
                “ngga!”
                “ku kawani yah”
                “ngga usah, kamu disini aja, hujan deras!”
                Tidak mau memaksa, sepertinya dia juga tidak mau ditemani. Akhirnya aku duduk kembali di bangku yang disandarkan ke kaki lima gereja. Ku lihat ia berjalan menembus derasnya hujan. Ku sulut kembali rokokku, lumayan sebatang lagi pikirku sembari Menikmati malam minggu.
                30 menit telah berlalu, angan-anganku menjalar entah kemana. Diamona belum juga kembali padahal jarak Minimarket ke gereja paling hanya sekitar 200 meter, hujan telah reda digantikan gerimis tipis dan embun yang menutupi kota. Ku perhatikan jam ditanganku. 21.27 WIB. Seketika terdengar suara teriakan keras dari arah jalan raya, beramai-ramai orang bergerak kesana ingin melihat apa yang tengah terjadi. Kepanikan mencekam. Lantas karena penasaran para pemuda gereja bergerak menuju kesana. Aku pun segera bangkit dan ikut melihat, menduga-duga bahwa telah terjadi kecelakaan.
                “ya Tuhan, itu Diamona” salah satu perempuan berteriak histeris.
                “Ya Tuhan” seketika semua Naposo terkejut setengah mati. Baru Satu jam yang lalu gadis cantik ini memperkenalkan diri sesiap ibadah dan 30 menit yang lalu dia masih berbincang denganku. Aku berdiri mematung, seolah tidak percaya dengan apa yang kulihat didepan mata dan aku gemetar, jalan raya di depan minimarket itu bersimbah darah dan payung biru itu tercampak ke sudut jalan. Aku tidak tahu dia masih hidup atau tidak.  Kepalanya mengucurkan banyak darah, Sesaat sebelum diangkat masuk ke Ambulance, aku melihat Bungkusan kecil bertuliskan Diamond terjatuh dari tangannya.
 3 minggu kemudian
                “hai diamon!” ku sapa tempat kediamannya meskipun aku tahu tidak ada jawaban.
                “hari ini kubawa padamu sebuah hadiah, ini payung biru yang kau pinjam kemarin. Mulai hari ini, payung ini sah milikmu, dan coba tebak, aku bawa eskrim Diamond, kudengar ini eskrim kesukaanmu”
                Airmataku mengalir. Aku menangis. Kami hanya 10 menit mengobrol dan aku sungguh menyesal bertingkah cuek. Ku harap ia menerima eskrim pemberianku. Ku usap salib berukirkan namanya. Dia memang berlian. Sejak saat itu, aku tidak lagi merokok.

Monday, February 26, 2018

MANTAN 1996




Aku hanya tertegun dalam anganku, mengingat dia setelah tahun berganti tahun. Ada senyum tulus  yang kemudian mengajakku bermimpi. Mungkin bersama dia bukanlah waktu-waktu yang terbaik dalam hidupku namun satu hal yang pasti, aku tidak pernah bisa melupakannya.
            “Mira, Mira”
            Kurasakan tangan kekar  menggenggam tanganku. itu victor, suamiku. Jika ditanya bagaimana perasaanku, ya aku sangat nyaman  tapi  suasananya berbeda ketika tangan yang lebih mungil  dan lembut dulu menggenggam tanganku. Rasanya sangat berbeda, namun ironisnya aku samasekali tidak berani  memberi komentar tentang  apa yang sebenarnya hatiku rasakan.
            “Mira, kok menghayal Sayang?”
            “ah, ngga apa-apa kok vi, tiba-tiba aja aku teringat mama” aku berbohong
            “jangan sedih sayang, yakinlah mama pasti sembuh kok, cuman demam biasa nya mama” ujarnya menghiburku.
            Kami bersama-sama menikmati suasana mentari terbenam di tepi pantai . Sesungguhnya ini adalah liburan yang menyenangkan di Sibolga tepat satu tahun setelah pernikahan kami. Kami sama-sama bahagia menjalani rumah tangga. Kami telah lama merencanakan perjalanan ini, karena tidak ada bulan madu setelah pernikahan kami. Victor adalah seorang abdi Negara yang harus siap bertugas di lembaga pemasyarakatan, sementara aku adalah seorang guru honorer. Oleh karena karir kami, kami harus saling menyemangati dan memaklumi. Itulah tugas suami istri.
            Namun, suasana hatiku terganggu ketika hujan kemarin sore. Saat itu, mobil kami mogok hingga terpaksa naik angkutan kota menuju Hotel tempat kami menginap sementara victor sudah menghubungi bengkel terdekat untuk mengurus mobil kami.
            Dalam situasi yang agak remang karena hujan yang turun begitu deras, aku tidak terlalu memperhatikan penumpang yang lain selain memegang tangan suamiku dan menghangatkan diri pada badannya yang jangkung. Angkutan itu berhenti, dan seorang ibu yang kehujanan bersama anaknya yang menangis kedinginan di gendongan, mereka naik ke angkot. Umur anak itu mungkin saja masih satu tahun. Mereka basah kuyup, sementara pintu samping angkot itu tidak bisa ditutup. Percikan air hujan merembes masuk.saat itu aku iba dan berpikir betapa bodohnya tadi aku tak membawa payung.
            Tangisan anak itu membahana, namun kalah oleh petir dan hujan deras. Sementara ibu itu duduk menghadap langsung ke pintu angkot yang terbuka. Tak ada yang rela menukarkan tempat duduk. Sementara aku iba, namun tak berniat berbuat karena takut jauh dari suamiku di situasi seperti ini.
            “anak ibu demam” suara seorang pria yang duduk disebelah victor. Rupanya pria itu menompangkan tangannya ke kepala anak itu memeriksa kondisi si anak.
            “iya amang, sebenarnya tadi mau berobat tapi karena panik saya lupa membawa payung”
            “lae, boleh pinjam payungnya” pria itu meminta kepada seorang lelaki di sudut angkot yang yang kelihatannya dari tadi lebih memilih untuk tidak perduli.
            “oh, ini lae” sodornya
            Pria mungil itu membuka payung lebar itu di dalam angkot, sembari meminta maaf kepada penumpang lainnya. Sesaat suara celoteh tanda protes terdengar, namun setelah tahu apa yang diperbuat pria itu semuanya terdiam membisu. Pria itu menggunakan payung sebagai penahan percikan air hujan yang masuk ke angkot.. anak dan ibu itu pun terlindungi. Beruntungnya si anak mulai terdiam, mungkin karena sudah kelelahan. Nampaknya ia mulai tertidur di pangkuan bundanya yang lembab.
            Sang ibu pun menyuruh angkot berhenti, tanda sudah sampai. Kemudian pria itu turun setelah lebih dahulu membenahi payung dan memberikannya kepada lelaki disudut angkot yang ternyata tak terbuka juga nuraninya untuk memberi. Pria itu membuka jaket hitamnya dan melindungi ibu dan anak itu lantas menerobos hujan yang deras. Begitu heroik. Sempat kulihat tatapannya yang teduh dan brewok di wajahnya yang tercukur rapi, mimiknya sendu dan aku merasa familiar. Rasanya aku mengenal dia.
            Aku hanya melihat ketidakpedulian di wajah victor dan juga merasakan malu di hatiku. Mungkin karena kami hanya orang asing di tempat ini, hanya wisatawan yang berlibur sehingga menjadi suatu batasan untuk berbuat sesuatu yang baik.
            “Besok kita ibadah ke gereja yah”
            Suara victor menyadarkanku dari lamunan, kembali ke pantai indah ini
            “Iya sayang” sambutku sambil mendekapnya, suamiku tercinta. Ini yang selalu aku suka dari suamiku. Dia bilang Jika di gereja dia akan selalu mengingat kembali bagaimana saat pertama ia bertemu denganku dulu.
            Malam berlalu, kami meleawatinya dalam pelukan cinta.
            Selepas ibadah minggu, aku dan victor  bergegas ke ruang konsistori gereja. Aku tidak pernah menduga jika pria yang menolong ibu dan anak di angkot itu adalah pria yang juga berkhotbah pagi ini di gereja serta mengisahkan sebuah ilustrasi yang sangat mencelikkan hati. Ia menyebutkan “angkot yang tidak peduli”. Dan aku juga tidak menyangka bahwa anak di pangkuan ibu itu meninggal semalam karena demam tinggi, diumumkan di acara Tingting (pengumuman).
            Namun apa yang kucari dan ingin ku pastikan tidak kudapati disana. Lantas aku bertanya kepada salah satu penatua  gereja tepat sebelum masuk ke ruang konsistori.
            “amang, mohon waktunya sebentar”
            “iya inang, ada yang bisa saya bantu?
            “kami mencari amang pendeta”
            “oh, amang pendeta berkunjung ke makam yefta, yang baru dimakamkan tadi pagi”
            “Yefta?” aku terheran. Dalam pikiranku muncul rasa penasaran.
            “iya inang, anak ini memang kebetulan sama namanya dengan pendeta kita . Kalau boleh tahu inang dan amang orang mana? Bukan jemaat gereja ini kan?”
            “Iya amang, kami hanya wisatawan. Hanya saja ada keperluan dengan amang Pendeta” ujar victor.
            “oh kalo begitu, orang amang sama inang ke sana saja, pemakaman itu dekat dari sini”
            Setelah mengucapkan terimakasih, kami pun berangkat menuju pemakaman sesuai petunjuk amang penatua itu. Tidak lama kami kemudian kami menemukan tempat pemakaman umum tersebut.
            “sayang, kamu tidak ikut” tanyaku kepada suamiku, setelah aku turun dari mobil dan kulihat dia tak ikut beranjak dari setirnya.
            “lebih baik aku mengopi dulu ke kedai terdekat. Jumpailah dia” katanya.
            “kamu yakin?” aku berusaha memastikan.
            “kamu istriku!, telpon aku nanti kalau sudah selesai” ucapnya sambil menutup kaca mobil. Perlahan mobil pun melaju.
            Kemudian ku langkahkan kakiku, meyakinkan niatku untuk menjumpainya. Ku telusuri jalan setapak diantara pekuburan yang masih jarang, belum terlalu padat. Samar-samar dari jauh ku lihat dia, sendirian. duduk tertunduk sepertinya tengah berdoa, menghadap kuburan yang masih baru. Mungkin itu kuburan Yefta, bayi yang meninggal kemarin. Dalam hatiku mulai yakin, benar itu dia; Yeftaku, kekasihku. Sekarang sesuai citanya yang dulu, sudah menjadi pendeta. Hanya saja aku tidak mengenalnya karena brewoknya yang sudah tumbuh, dulu wajahnya begitu bersih. Oh Tuhan, betapa hatiku bersyukur. Namun langkahku tertahan. Sepertinya ia telah siap berdoa.
            Aku lantas bersembunyi di balik sebuah pohon beringin muda yang rindang. Perlahan ku dengar langkah kakinya mendekat berjalan menuju ke arahku. “Oh Tuhan, apakah ia melihatku?”. Aku meringkuk di balik pohon. Jantungku berdebar kencang, sangat kencang. Ku tahan napasku, keringat dinginku mulai muncul.
            Dengan jelas ku dengar ia, pendeta itu menangis sesenggukan sambil menariki akar beringin dibalik persembunyianku. Sepertinya ia mencari sesuatu. Aku lega, ternyata aku tidak terciduk. Aku pun merasa malu mengapa harus berperan seperti mata-mata.
            Tidak lama kemudian, sesenggukan itu berubah menjadi tangisan yang menyedihkan. Begitu jelas ku dengar. Dan suara tangis itu sangat ku kenal. Tangisan yang pernah berhenti dalam bujukanku, tangisan yang pernah berhenti dalam dekapanku. Ohh yeftaku, hatimu masih tidak bisa menyembunyikan kelembutannya. Ku rasakan air mataku ikut menetes, menyatu dalam kesedihannya. Ia tidak mengucap kata. Hanya menangis saja.
            Beberapa waktu kemudian, suara tangis Yefta makin pelan hingga kemudian  menghilang. Aku bangkit dan mengintip, tidak ada siapapun lagi di balik pohon. Panik. Aku bergegas mencarinya, namun sialnya saat melewati pohon kakiku tersandung, aku terjatuh dan kepalaku nyaris terantuk sebuah nisan. Aku bangkit meringis karena kakiku memar, aku membersihkan diri . Sesaat aku tertegun, nyaris tidak percaya. Apa yang ada dihadapanku benar-benar membuatku terhenyak. Hatiku menjadi begitu terluka. Dihadapanku, Nisan yang sedari tadi ditangisi oleh pendeta itu, tepat di bawah pohon beringin muda . Nisan berukirkan salib dan nama yang tidak akan pernah ku duga sudah mati.  “Mira Tresmawati”. Namaku dengan begitu indah terukir disana. Aku tertunduk dan merasa hatiku tersayat perih. Maafkan aku Yefta. Maafkan aku Cintaku.
           
..................................
             
           


Monday, June 5, 2017

AlpenLiebe

ada hal-hal yang membuatku tersenyum saat kembali mengingat tentang dirimu
sebuah cerita pada buku asmara tanpa sampul 
kenangan sama rasanya seperti permen alpenliebe
sekali merasakan manisnya, ingin sampai menghabiskannya.
lembar demi lembar yang masih bisa ku ingat
engkau adalah hal terindah yang pernah ku miliki
dan aku tidak pernah menyesal melepaskanmu
karena aku, lelaki di ujung lupa.

seperti menyaksikan drama serial kehidupan
kita berlakon dalam cinta penuh kebencian
akhir cerita, semua menjadi sesuai permintaan hujan
yang tidak pernah menghapus jejakmu dari ingatan.

daun-daun berguguran demi musim
dan pohon-pohon kokoh menantang petir
dalam gemetar tangan aku menantang harapan
bahwa hidup memang selalu punya alasan

aku, lelaki di ujung lupa
menggenggam permen alpenliebe
dan buku itu, tergenggam di benakku
kita pernah bermain dengan waktu.

dirimu fatamorgana
aku ilusi dari aurora
yang hanya ada dalam cerita
tertulis di buku asmara.

terbit dan bersinarlah bintangku
dalam cahaya cinta yang lain. 

Monday, May 22, 2017

Antara 2 Lelaki

aku ada disini
dan ya, aku sendiri kini
melemparkan harapan sejauh yang kubisa
melepaskan sejauh yang aku mampu

engkau ada disana
dan ya, engkau telah bahagia
meraih segala bahagia yang bisa kau peroleh
mendapatkan cinta yang engkau mau

hanya ada hal-hal yang tidak pernah kita mengerti
tentang waktu
dan maksud dari pertemuan kita
dan arti dari perpisahan kita

asmara bukan sesuatu yang mudah
bukan perkara yang sederhana
sebuah hubungan menawarkan banyak pilihan
dan kerumitan cinta itu sendiri

ada beban moral di tengkukku
ratusan hari berlalu bersamamu
sementara kita membuang waktu
untuk hal-hal yang tidak perlu

kita hanya menghargai kenangan
dan menghormati komitmen yang pernah ada
sisanya hanyalah rasa sesat
dimana yang ada saat ini adalah kebisuan

diantara kita
tanpa kata, tanpa nada tanpa isyarat
seolah pelukan hangat sebatas mimpi malam
ini hanyalah pesan menyengat

untukmu
yang berlalu tanpa lagu
sementara aku menulis puisi 
engkau pergi, dengan hati menyesak terisi, antara dua lelaki.

(Mardaup. J)

Untukmu Aku....

untukmu aku menulis puisi dari sisa huruf 
yang mungkin luput dari tangan para penyair
barangkali ada makna yang tidak sempat terbaca
dari sajak tertulis di lembar kertas usang yang menguning

mungkin masih ada suara yang dibisikkan 
keheningan nan senyap
dengan nyanyian yang begitu akrab di telinga kita

betapa kilauan dan mimpi-mimpi hanyalah sebentuk embun
 dimana jiwa tanpa lelah melepaskan diri 
dari makna dan bahasa

sebab cinta telah memerdekakan dirinya 
dari tanda tanya pada sekuntum bunga.

(Jepri Mardaup)

Sunday, May 21, 2017

Senang Berkenalan Denganmu!!!


(jepri mardaup/22 Mei 2017/Nafegu)

Aku pernah bersalah pada Masa Lalu
Sekitar ratusan hari sebelum hari ini
Pada satu sudut pandang mata yang pernah ku miliki
Pada satu tatapan tulus yang senantiasa tertuju padaku

Aku pernah menyentuh dasar dari rasa seseorang
Yang kedalamannya tidak pernah ku perhitungkan
Sehingga ribuan sakit tidak terduga membuatnya terhina
Aku tidak pernah berharap kembali, karenanya.

Seseorang akan senantiasa datang
Dan seseorang akan selalu pergi
Secuil makna tentang kesetiaan hanyalah tulisan harap
Pada akhirnya debu akan senantiasa berharap angin datang.

Lalu sosok lain datang tempo hari
Dengan satu pasang mata yang sama menghanyutkanku
Sadarku, panorama alam membingungkanku
Rahasia semesta selalu bekerja tanpa duga

Kemiripan hanya biasa
Namun matanya nyaris tanpa beda
Sorot dan sudut pandang yang pernah ada
Seolah Mengajakku berkencan dengan kenangan.

Senang berkenalan denganmu!  

Monday, May 8, 2017

"DI EN JI" Ketika Mereka Disebut Begitu ( Sebuah Sejarah)


Gambar 1 : DNG Of Ekklesia Saat Pelantikan 9 Pengurus


Gambar 2 : Mahasiswa Fakultas Pertanian USI yang memberi Kado Natal Kepada Anak-anak Panti Asuhan Mamre 10 Desember 2017
Lahir pada 12 April 2016 silam, tidak dapat disangkal bahwa “The Next Generation Of Ekklesia” yang kemudian Sering disebut D”NG (baca :Di En Ji) Of  Ekklesia adalah suatu Komunitas para pemuda mahasiswa yang berasal dari Sidamanik, Simalungun namun kemudian dalam proses perkembangannya banyak yang tertarik untuk ikut bergabung meskipun bukan mahasiswa asal sidamanik. Berawal dari Inisiatif Hendri Simarmata, Frian Manik dan Elfansus Manurung untuk menghimpun persekutuan dan dengan harapan menjadi pemuda mahasiswa yang dapat berdampak positif dan berpengaruh baik  serta tidak melupakan Nilai-nilai Kekristenan sebagai generasi gereja yang sadar akan masa depan yang ada digenggamannya.
gambar 3 : Aksi Pendidikan Dan Pelayanan Minggu DNG Of Ekklesia

gambar 4 : Para perempuan Hebat generasi pertama DNG Of Ekklesia
Saat ini DNG Of Ekklesia telah menghimpun mahasiswa/i dari berbagai Perguruan Tinggi yang ada di Pematangsiantar diantaranya Mahasiswa Dari STT HKBP, Universitas HKBP Nomensen, Universitas Simalungun (USI) dan AMIK Tunas Bangsa. Meskipun terdiri dari berbagai kampus yang berbeda tidak menjadi sebuah halangan untuk menjalin kekompakan dan persahabatan yang mesra dalam komunitas ini.
Gambar 5 : Bersama Guru pengajar di SD N Aek Unsim

Kepemimpinan Hendri Simarmata tidaklah berlangsung lama, kemudian digantikan oleh Hans Becken Purba sebagai Ketua DNG hingga Akhir Februari 2017 dimana kemudian Jhonatan Sitanggang terpilih menjadi Ketua DNG Of Ekklesia yang ketiga, terpilih secara demokratis dengan sidang pemilihan terbuka. Pada masa kepengurusan yang ketiga ini, ada terobosan baru dimana BPH (Badan Pengurus Harian ) dikembangkan dalam beberapa bidang sehingga menjadi 9 orang penanggungjawab dimana sebelumnya BPH hanya terdiri dari Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris dan Bendahara (4 Orang), untuk kepengurusan saat ini terdiri dari Ketua, 3 Wakil ketua Bidang (Waket Peporsi, Waket Akspero, Waket Rekminfo), Sekretaris, 3 wakil Sekretaris Bidang (Wasek Peporsi, Wasek  Akspero, Wasek Rekminfo) dan Bendahara.
Gambar 6 : Sambutan dari Pimpinan Panti Asuhan GKPI Mamre, dan Pemberian Hasil alam Sidamanik oleh DNG kepada Mamre

DNG Of Ekklesia mengadakan ibadah malam rutin setiap minggunya, yaitu pada jumat malam.itulah kewajiban pokok organisasi serta beberapa program antara 2016-2017 diantaranya “Perayaan Natal Bersama Panti Asuhan GKPI Mamre ( 10 Desember 2016) dan “Aksi Pendidikan Dan Pelayanan Minggu di Desa Aek Unsim (28-30 April 2017) Sekaligus Dies Natalis yang pertama”.  Perlu diketahui bahwa DNG Of Ekklesia tidak memiliki sokongan dana dari pihak manapun, selain daripada dana mandiri dan melakukan aksi Ngamen pada November 2016 Silam untuk menggalang dana dalam mensukseskan Natal yang Bertajuk “Aksi Berbagi Kasih” di Panti Asuhan Mamre pada Desember 2016 Silam.

Gambar * : Photo bersama Sehabis Pelayanan minggu di Desa Aek Unsim

Dalam kunjungan ke desa Aek Unsim (salah Satu desa tertinggal di Kabupaten Tobasa) yang sampai saat ini belum memiliki infrastruktur transportasi yang layak dan belum memiliki jangkauan sinyal seluler samasekali, DNG Of Ekklesia dengan dana yang pas-pasan memantapkan langkah untuk menempuh perjalanan sejauh 8 jam lamanya, dimana 7 jam dengan Angkutan Mawar Silangit dari Pematangsiantar hingga Kota Kecamatan Borbor dan tepat jam 01.00 subuh setelah istirahat sejenak, Team DNG Of Ekklesia berangkat menuju desa dengan menaiki mobil Pick Up/Eltor menembus rimba dengan suhu di subuh yang amat sangat dingin.
2 Aksi yang besar telah dilaksanakan yaitu “Aksi Berbagi Kasih” (Natal Bersama Panti Asuhan Mamre, 10 Desember 2016) dan “Aksi Pendidikan Dan Pelayanan Minggu” ( Desa Aek Unsim, 28-30 April 2017). Semoga kedepannya DNG semakin berkembang dan disadari kehadirannya di tengah Masyarakat dan ditengah dunia pemuda Mahasiswa secara khusus di wilayah Pematangsiantar.
Akan sangat dibutuhkan Terobosan-terobosan baru dan ide-ide yang kreatif dalam membangun kehidupan yang semakin monoton ini, semuanya tergantung di tangan para generasi.
Salam Pemuda
Salam Mahasiswa
Salam Generasi

Redaksi Oleh : Jepri Mardaup