Thursday, March 8, 2018

Mawar Untuk Monika



               

Cuaca pagi membangunkankanku dalam kesejukan. Aku terduduk dan sejenak berusaha menyusun alur mimpiku semalam yang tidak beraturan jalan ceritanya. Aku kembali bermimpi tentang dia. Seharusnya dia sudah kadaluwarsa dari ingatan namun mimpi-mimpi dari alam bawa sadarku senantiasa mengingatkan kembali tentang dirinya. Meskipun begitu, aku selalu menutupi kasus ini. Aku sudah menjalani dunia yang samasekali jauh bersisian dengan dirinya. Melupakan masa lalu memang tidak semudah membalikkan telapak tangan.
                Aku segera berbenah di pagi yang cerah ini, rutinitas ku sebagai seorang guru sangat ku nikmati. Tatkala bertemu dengan para siswaku yang masih dalam labilitas dan kebebasan bertumbuh, rasa tanggungjawab itu tumbuh untuk mengarahkan mereka kepada jalan hidup yang lebih baik. Setidaknya lebih baik dari para gurunya. Aku bangkit dan tidak lupa menyirami bunga mawar di pekarangan rumah, selagi masih pagi pikirku. Bunga Mawarku bermekaran, merah cerah. Mengingatkankanku pada sahabatku, Mawar. Sahabat terbaik dalam perjalanan hidupku, yang kusayangi melebihi diriku sendiri, entah dimana dia berada sekarang.
                Handphone ku berdering, ada pesan WA baru masuk. Ku lihat pesan Vikri, pacarku. Sudah tiga minggu ini dia menunggu akan lamarannya. Aku masih berpikir dan menimbang. Masih berat rasaku untuk menikah.
                “selamat pagi sayang, semangat bekerja” demikian pesannya. Read.
                Ku letakkan kembali hpku sambil memejamkan mata. dilema. Aku Merasa bersalah kepada setiap sisi. Merasa bersalah kepada diri sendiri yang tidak bisa menentukan sikap. Merasa bersalah kepada Vikri dan keluarganya yang telah lama menunggu. Dan aku merasa bersalah pada satu sisi di lubuk hatiku yang paling dalam yang tidak akan pernah bisa terkatakan.
                “selamat pagi bu guru” sapa para muridku di gerbang sekolah.
                “selamat Pagi!” balasku dengan tersenyum ramah.
                Hari masih pagi dan di kantor guru yang ku jumpai masih seorang, Ibu Rouna.
                “bu Mon, ini ada surat kepada ibu” katanya sambil memberi sebuah amplop berisi surat.
                Ku terima  itu, dan ada nama lengkapku disana. Kepada Yang terhormat, Ibunda Guru Monika Arinda.  Surat itu Yayasan Pelangi Cinta Fondasi(PCF).
                “ibu juga dapat surat?”
                “iya bu Mon, ibu tahu ngga klo yayasan PCF itu disponsori oleh beberapa perusahaan terbesar di Negara ini”
                “iya tahu bu. Tapi pihak PCF mengundang kita dengan pertimbangan apa? Seharusnya guru-guru yang sudah mapan dan berpengalaman yang diundang dalam misi seperti ini”.
                “Iya juga sih, tapi dari yang ku lihat dari 4 undangan yang datang ke sekolah kita. Ke empatnya termasuk guru-guru muda”
                “siapa yang dua lagi”
                “Pak riko dan Pak Hendra”
                “jadi gimana ibu? Ibu Rouna Ikut?”
                “iya harus ikutlah bu, ini bakal jadi ekspedisi besar dan termasuk sebuah sejarah dalam dunia pendidikan, aku tak ingin melewatkan kesempatan ini”.
                Sebuah gebrakan besar yang dimotori oleh Yayasan Pelangi cinta telah menuai simpati rakyat di negeri ini. Tatkala pulau-pulau terpencil berhasil di duduki oleh pendidikan yang mapan demi generasi bangsa. Kali ini setelah lama mendengar di berita dan surat kabar mengenai yayasan ini dan misinya yang besar, kali ini saya mendapat kesempatan yang berharga untuk bergabung dalam misi ini.
                Ku WA Vikri “Vik, maafkan aku. Aku belum siap untuk menikah”. Sent.
                Esoknya aku berbenah, aku dan rouna berangkat bersama puluhan guru yang tergabung dalam misi sumatera. Berlayar menuju pulau Mentawai. Mungkin saja aku ikut karena ingin pergi dari semua tekanan hidup yang memberatkan rasaku. Aku hanya ingin warna baru. Meresapi pengalaman baru. Mungkin rencana untuk menikah akan kutunda sampai beberapa waktu ke depan. Sampai aku benar-benar siap melepaskan semua hal yang mengganggu batinku.
                Namun di luar dugaan, tubuhku tidak tahan terhadap peralihan cuaca. Setelah perjalanan panjang nan melelahkan, Sesampai di pulau aku mengalami demam tinggi hingga harus mendapatkan perawatan. Hingga aku terbangun esok paginya di posko aku begitu shock dengan adanya setangkai mawar merah di letakkan di sampingku.
                “hey, udah bangun bu Mon!” sapa rouna, yang menjagaiku semalaman.
                “ini mawar dari siapa Ro?” tanyaku penasaran.
                “dari ketua yayasan”
                “hah” aku terheran, tidak percaya.
                “biasa aja kali mon, tuh tengok, semua orang sakit dapat mawar”
                Lantas ku perhatikan sekelilingku, ada sekitar 7-8 orang ternyata dari kami yang sakit . Pada akhirnya aku semakin salut dan kagum dengan sosok ketua yang sering diperbincangkan oleh para guru sepanjang perjalanan. Sayang sekali aku tidak terbangun saat dia datang subuh tadi, aku sangat penasaran. Dan juga Mawar ini, aku juga punya cerita tentang mawar. Sepertinya dia suka mawar.
                “Gimana mon? udah kuat ikut untuk ikut tutorium dari ketua hari ini?” Tanya Rouna, kami memang sepakat untuk menghilangkan formalitas diantara kami, sehingga kami hanya memanggil nama saja.
                “udah lumayan sih ro, udah bisa aku ikut. Nanti takutnya ketinggalan banyak materi, padahal besok udah mau aksi”
                “ayoklah, cepatlah kita berbenah”
                Dengan kondisi yang ala kadarnya di posko pelayanan ini kami pun bersiap untuk mengikuti Tutorium dari ketua yayasan yang telah menjalankan misi karya pendidikan ini selama dua tahun. Dia begitu terkenal, namun hanya sedikit orang yang tahu namanya, bahkan media pun sama sekali tidak dapat menangkap wajahnya dan identitasnya. Bangsa ini hanya tahu Yayasan Pelangi Cinta, dan ratusan Guru senusantara yang menjadi pendukung dan menjadi Voulentirnya. Termasuk saya. Rasa penasaran menghinggapi kami para guru untuk melihat figur asli dari sang tokoh yang dimuat dalam buku terpopuler yang terbit tahun lalu “Sang Perintis”.
                Kami duduk di tempat yang telah dipersiapkan disebuah lapangan besar dan ditutupi tenda. Ada sekitar 90an guru yang tergabung dalam misi sumatera. Sebuah kehormatan besar.
                “selamat pagi, para pahlawan”
                “selamat pagi ketua” semua serempak dan semangat menjawab sambutan berkharisma itu.
                Aku terpaku. Terheran. Terhenyak. Mataku tidak percaya. Hatiku bergolak. Seketika kepanikan memenuhi batinku.
                “perkenalkan, namaku Prof. Mawar Joni, saya Ketua Tim Yayasan Pelangi Cinta Fondasi. Selamat datang para pahlawan pendidikan, mari berkarya di lading kemiskinan. Buat bangsa ini menjadi hebat”.
                Kepalaku pusing. Bumi seolah bergeming dari pijakan kakiku. Aku mohon ijin kepada panitia untuk keluar sebentar. Acara tetap dilanjutkan. Aku kembali ke posko dan ku bongkar barang-barangku mencari kembali surat undangan yang disampaikan rouna tempo hari. Aku menemukannya. Dan ku periksa dengan seksama. Tertanda ketua Tim : M.Joni.
                 Ya Tuhan, Dari sekian ratus orang sukses yang ada di negeri ini, mengapa harus dia. Mengapa harus si Mawar, tahukah engkau ya Tuhan daripada bertemu dengannya lebih baik ku celupkan wajahku ke lumpur hina puluhan kali. Aku tidak sanggup berhadapan langsung dengannya.
                Seketika  kenangan tentang mawar muncul menghukumku.
                “aku mencintaimu mon, aku sangat mencintaimu”
                “maaf war, kita harus berpisah. Udah bosan aku samamu”
                “Mon, jangan begitu. Aku tahu kamu bertemu dengan cowok yang lebih hebat, tapi tentu kamu tahu betapa tulusnya aku samamu”
                “iya kau tulus, tapi aku anak orang miskin war, kamu juga. Kamu tahu betapa menyedihkannya hal itu? Kita akan saling mencintai dan bergumul dengan lumpur kemiskinan seumur hidup”.
                “apakah itu kata-kata bijak dari seorang calon guru?”
                “iya war, satu tahun saja cukup untuk kita. Simpan saja semua kenangan kita. Enyahlah. Aku ingin kaya”

                Seribu satu alasan pun tak akan cukup untuk menyembuhkan luka yang telah ku buat. Alasan apapun yang kulakukan untuk bersikap matre dan membuatnya membenciku tak akan mampu mengubah keadaan dan rasa maluku. Sejauh ini aku hanya menduga dia ingin membalaskan dendamnya padaku, yang telah tertahan bertahun-tahun yang lalu. Ku kemasi semua barangku dan melangkah menjauh.
                “Monika!!!” suara itu memanggil namaku
                Aku menoleh, dia berdiri disana. Masih dengan tubuh pendeknya. Salah satu spesies mawar yang tak berduri. Pria yang tidak henti-hentinya berkarya di muka bumi. Sejauh yang ku ingat aku hanya ingat Mawar.J bukan M.Joni. ku lihat kearah tenda rupanya acara tutorium sudah diambil alih oleh panitia lain.
                Aku berdiri kaku.begitu malu. Antara lari atau bersembunyi, aku malah mematung dengan bodohnya.
                Dia mendekat. Menawarkan sebuah bunga mawar lagi.
                “Monika Arinda, Lama tidak bertemu” ujarnya  tersenyum penuh wibawa.
                Hatiku bersorak detik itu “Mama, aku ingin Pulang”. 

Mardaup.J



                 

               
               

Wednesday, March 7, 2018

DIAMONA



Diamona.
Oleh : Jepri Simanjuntak

                Langkah kaki itu beriringan berjalan cepat menuju gereja, tatkala rintik hujan memaksa diri untuk mempercepat jalan agar tidak basah terkena air hujan. Malam ini sepertinya banyak pendatang baru, wajar karena ini adalah awal semester. ku ambil payung hijauku dari lemari asrama, begitu ku lebarkan  payungku di depan pintu asrama, abunya beterbangan. Lantas aku terbersin-bersin. Kesal dengan payung yang sudah terlalu lama beristirahat di lemari.
                Lalu aku berangkat menuju gereja, 100 meter jaraknya dari asrama. Amang guru yang memimpin ibadah PA malam ini, biasanya sesudah PA akan diadakan latihan Koor Naposo, tetapi malam ini karena banyak pendatang baru maka diadakan sesi perkenalan sebelum dibagikan partitur koor. Rupanya ada sekitar 20an anak baru yang masuk Naposo gereja ini. Bosan dengan situasi, aku keluar sebentar dan menyulut rokok sampoerna kesukaanku di iringi hujan yang sejuk malam ini.
                Tidak lama kemudian sesi perkenalan selesai, namun naposo yang tergolong skuad lama menuntut untuk bersantai dulu malam ini dengan obrolan ringan tanpa harus bergelut dengan partitur koor yang cenderung membuat bosan. Amang guru sepertinya mau tak mau harus setuju.  Bisik-bisik mulai tersebar dengan adanya pesona baru yang hadir malam ini. Malam minggu ini mungkin serasa sial bagi para pasangan diluar sana karena hujan yang mengganggu suasana, namun di gereja ini para pemuda yang tengah dalam masa puber ini merasa beruntung dengan hadirnya pesona-pesona baru. Hanya menunggu waktu, mungkin 1 bulan atau 2 bulan kemudian akan ada pasangan-pasangan baru.
                Selalu begitu, dua tahun terlibat dalam komunitas ini sering hanya membuatku tersenyum risih. Semua terlihat seperti semu dan romantisme yang dibingkai oleh PA dan latihan Koor. Merasa terasing, lalu diasingkan hingga kemudian asik sendiri, aku tidak terlalu peduli lagi dengan sekitarku. Mungkin saja hingga detik ini, hanya sendiriku yang jomblo, kalaupun ada yang belum pacaran minimal pasti lagi pedekate. Magnet antara dua jenis yang berbeda ini begitu kuat ditempat ini, mungkin Tuhan menempatkan Santo Valentinus sebagai pelindung tempat ibadah ini.
                Hanya sebentar gabung ke dalam ruangan gereja, tak lama kemudian aku melangkah keluar. Mereka sibuk dengan percakapan masing-masing, dalam beberapa kelompok cerita yang terpisah-pisah. Ku lanjutkan kemesraanku dengan sampoernaku sampai kemudian ada suara yang tiba-tiba menyapa dari belakangku.
                “sendirian?”
                “iya, seperti yang kau lihat”
                “Mona”  dia mengulurkan tangannya, “Diamona” katanya kemudian.
                “Diamona?, Mungkinkah berlian? “
                “iya” dia tersenyum.
                Lalu tanpa sungkan dia duduk disampingku. Langsung ku buang rokokku ke genangan air hujan.
                “Namamu?”
                “pentingkah?”
                “ngga adil dong, cuman aku yang ngenalin diri”
                “lah, yang nyuruh kenalan siapa?”
                “ngga ada yang nyuruh sih”
                “Jerikho, biasa dipanggil Jeri” tandasku.
                “Jeri sudah lama gabung naposo disini?”
                “sudah”
                “kok ngga gabung sama yang lain?”
                “bosan aja”.
                “jeri, boleh pinjam payungmu?”
                “Kemana?”
                “Minimarket, mau beli obat! Maagku kambuh”.
                Sedikit rasa sesal ada di hati, aku tahu dia memang cantik namun dia mendekatiku dengan tujuan meminjam payung yang mungkin sudah dilihatnya dari tadi.
                “memangnya kamu ngga bawa payung?”
                “bawa sih, tapi payungmu warnanya biru”
                “lah, warna kok jadi alasan. Biru kenapa?”
                “mau nya minjamkan? Klo ngga bisa ngga apa-apa kok Jer!”
                Sedikit kesal dengan tingkahnya yang seolah sudah lama mengenal, ku berikan payung biru itu kepadanya.
                “ada kawanmu jalan kesana?”
                “ngga!”
                “ku kawani yah”
                “ngga usah, kamu disini aja, hujan deras!”
                Tidak mau memaksa, sepertinya dia juga tidak mau ditemani. Akhirnya aku duduk kembali di bangku yang disandarkan ke kaki lima gereja. Ku lihat ia berjalan menembus derasnya hujan. Ku sulut kembali rokokku, lumayan sebatang lagi pikirku sembari Menikmati malam minggu.
                30 menit telah berlalu, angan-anganku menjalar entah kemana. Diamona belum juga kembali padahal jarak Minimarket ke gereja paling hanya sekitar 200 meter, hujan telah reda digantikan gerimis tipis dan embun yang menutupi kota. Ku perhatikan jam ditanganku. 21.27 WIB. Seketika terdengar suara teriakan keras dari arah jalan raya, beramai-ramai orang bergerak kesana ingin melihat apa yang tengah terjadi. Kepanikan mencekam. Lantas karena penasaran para pemuda gereja bergerak menuju kesana. Aku pun segera bangkit dan ikut melihat, menduga-duga bahwa telah terjadi kecelakaan.
                “ya Tuhan, itu Diamona” salah satu perempuan berteriak histeris.
                “Ya Tuhan” seketika semua Naposo terkejut setengah mati. Baru Satu jam yang lalu gadis cantik ini memperkenalkan diri sesiap ibadah dan 30 menit yang lalu dia masih berbincang denganku. Aku berdiri mematung, seolah tidak percaya dengan apa yang kulihat didepan mata dan aku gemetar, jalan raya di depan minimarket itu bersimbah darah dan payung biru itu tercampak ke sudut jalan. Aku tidak tahu dia masih hidup atau tidak.  Kepalanya mengucurkan banyak darah, Sesaat sebelum diangkat masuk ke Ambulance, aku melihat Bungkusan kecil bertuliskan Diamond terjatuh dari tangannya.
 3 minggu kemudian
                “hai diamon!” ku sapa tempat kediamannya meskipun aku tahu tidak ada jawaban.
                “hari ini kubawa padamu sebuah hadiah, ini payung biru yang kau pinjam kemarin. Mulai hari ini, payung ini sah milikmu, dan coba tebak, aku bawa eskrim Diamond, kudengar ini eskrim kesukaanmu”
                Airmataku mengalir. Aku menangis. Kami hanya 10 menit mengobrol dan aku sungguh menyesal bertingkah cuek. Ku harap ia menerima eskrim pemberianku. Ku usap salib berukirkan namanya. Dia memang berlian. Sejak saat itu, aku tidak lagi merokok.

Monday, February 26, 2018

MANTAN 1996




Aku hanya tertegun dalam anganku, mengingat dia setelah tahun berganti tahun. Ada senyum tulus  yang kemudian mengajakku bermimpi. Mungkin bersama dia bukanlah waktu-waktu yang terbaik dalam hidupku namun satu hal yang pasti, aku tidak pernah bisa melupakannya.
            “Mira, Mira”
            Kurasakan tangan kekar  menggenggam tanganku. itu victor, suamiku. Jika ditanya bagaimana perasaanku, ya aku sangat nyaman  tapi  suasananya berbeda ketika tangan yang lebih mungil  dan lembut dulu menggenggam tanganku. Rasanya sangat berbeda, namun ironisnya aku samasekali tidak berani  memberi komentar tentang  apa yang sebenarnya hatiku rasakan.
            “Mira, kok menghayal Sayang?”
            “ah, ngga apa-apa kok vi, tiba-tiba aja aku teringat mama” aku berbohong
            “jangan sedih sayang, yakinlah mama pasti sembuh kok, cuman demam biasa nya mama” ujarnya menghiburku.
            Kami bersama-sama menikmati suasana mentari terbenam di tepi pantai . Sesungguhnya ini adalah liburan yang menyenangkan di Sibolga tepat satu tahun setelah pernikahan kami. Kami sama-sama bahagia menjalani rumah tangga. Kami telah lama merencanakan perjalanan ini, karena tidak ada bulan madu setelah pernikahan kami. Victor adalah seorang abdi Negara yang harus siap bertugas di lembaga pemasyarakatan, sementara aku adalah seorang guru honorer. Oleh karena karir kami, kami harus saling menyemangati dan memaklumi. Itulah tugas suami istri.
            Namun, suasana hatiku terganggu ketika hujan kemarin sore. Saat itu, mobil kami mogok hingga terpaksa naik angkutan kota menuju Hotel tempat kami menginap sementara victor sudah menghubungi bengkel terdekat untuk mengurus mobil kami.
            Dalam situasi yang agak remang karena hujan yang turun begitu deras, aku tidak terlalu memperhatikan penumpang yang lain selain memegang tangan suamiku dan menghangatkan diri pada badannya yang jangkung. Angkutan itu berhenti, dan seorang ibu yang kehujanan bersama anaknya yang menangis kedinginan di gendongan, mereka naik ke angkot. Umur anak itu mungkin saja masih satu tahun. Mereka basah kuyup, sementara pintu samping angkot itu tidak bisa ditutup. Percikan air hujan merembes masuk.saat itu aku iba dan berpikir betapa bodohnya tadi aku tak membawa payung.
            Tangisan anak itu membahana, namun kalah oleh petir dan hujan deras. Sementara ibu itu duduk menghadap langsung ke pintu angkot yang terbuka. Tak ada yang rela menukarkan tempat duduk. Sementara aku iba, namun tak berniat berbuat karena takut jauh dari suamiku di situasi seperti ini.
            “anak ibu demam” suara seorang pria yang duduk disebelah victor. Rupanya pria itu menompangkan tangannya ke kepala anak itu memeriksa kondisi si anak.
            “iya amang, sebenarnya tadi mau berobat tapi karena panik saya lupa membawa payung”
            “lae, boleh pinjam payungnya” pria itu meminta kepada seorang lelaki di sudut angkot yang yang kelihatannya dari tadi lebih memilih untuk tidak perduli.
            “oh, ini lae” sodornya
            Pria mungil itu membuka payung lebar itu di dalam angkot, sembari meminta maaf kepada penumpang lainnya. Sesaat suara celoteh tanda protes terdengar, namun setelah tahu apa yang diperbuat pria itu semuanya terdiam membisu. Pria itu menggunakan payung sebagai penahan percikan air hujan yang masuk ke angkot.. anak dan ibu itu pun terlindungi. Beruntungnya si anak mulai terdiam, mungkin karena sudah kelelahan. Nampaknya ia mulai tertidur di pangkuan bundanya yang lembab.
            Sang ibu pun menyuruh angkot berhenti, tanda sudah sampai. Kemudian pria itu turun setelah lebih dahulu membenahi payung dan memberikannya kepada lelaki disudut angkot yang ternyata tak terbuka juga nuraninya untuk memberi. Pria itu membuka jaket hitamnya dan melindungi ibu dan anak itu lantas menerobos hujan yang deras. Begitu heroik. Sempat kulihat tatapannya yang teduh dan brewok di wajahnya yang tercukur rapi, mimiknya sendu dan aku merasa familiar. Rasanya aku mengenal dia.
            Aku hanya melihat ketidakpedulian di wajah victor dan juga merasakan malu di hatiku. Mungkin karena kami hanya orang asing di tempat ini, hanya wisatawan yang berlibur sehingga menjadi suatu batasan untuk berbuat sesuatu yang baik.
            “Besok kita ibadah ke gereja yah”
            Suara victor menyadarkanku dari lamunan, kembali ke pantai indah ini
            “Iya sayang” sambutku sambil mendekapnya, suamiku tercinta. Ini yang selalu aku suka dari suamiku. Dia bilang Jika di gereja dia akan selalu mengingat kembali bagaimana saat pertama ia bertemu denganku dulu.
            Malam berlalu, kami meleawatinya dalam pelukan cinta.
            Selepas ibadah minggu, aku dan victor  bergegas ke ruang konsistori gereja. Aku tidak pernah menduga jika pria yang menolong ibu dan anak di angkot itu adalah pria yang juga berkhotbah pagi ini di gereja serta mengisahkan sebuah ilustrasi yang sangat mencelikkan hati. Ia menyebutkan “angkot yang tidak peduli”. Dan aku juga tidak menyangka bahwa anak di pangkuan ibu itu meninggal semalam karena demam tinggi, diumumkan di acara Tingting (pengumuman).
            Namun apa yang kucari dan ingin ku pastikan tidak kudapati disana. Lantas aku bertanya kepada salah satu penatua  gereja tepat sebelum masuk ke ruang konsistori.
            “amang, mohon waktunya sebentar”
            “iya inang, ada yang bisa saya bantu?
            “kami mencari amang pendeta”
            “oh, amang pendeta berkunjung ke makam yefta, yang baru dimakamkan tadi pagi”
            “Yefta?” aku terheran. Dalam pikiranku muncul rasa penasaran.
            “iya inang, anak ini memang kebetulan sama namanya dengan pendeta kita . Kalau boleh tahu inang dan amang orang mana? Bukan jemaat gereja ini kan?”
            “Iya amang, kami hanya wisatawan. Hanya saja ada keperluan dengan amang Pendeta” ujar victor.
            “oh kalo begitu, orang amang sama inang ke sana saja, pemakaman itu dekat dari sini”
            Setelah mengucapkan terimakasih, kami pun berangkat menuju pemakaman sesuai petunjuk amang penatua itu. Tidak lama kami kemudian kami menemukan tempat pemakaman umum tersebut.
            “sayang, kamu tidak ikut” tanyaku kepada suamiku, setelah aku turun dari mobil dan kulihat dia tak ikut beranjak dari setirnya.
            “lebih baik aku mengopi dulu ke kedai terdekat. Jumpailah dia” katanya.
            “kamu yakin?” aku berusaha memastikan.
            “kamu istriku!, telpon aku nanti kalau sudah selesai” ucapnya sambil menutup kaca mobil. Perlahan mobil pun melaju.
            Kemudian ku langkahkan kakiku, meyakinkan niatku untuk menjumpainya. Ku telusuri jalan setapak diantara pekuburan yang masih jarang, belum terlalu padat. Samar-samar dari jauh ku lihat dia, sendirian. duduk tertunduk sepertinya tengah berdoa, menghadap kuburan yang masih baru. Mungkin itu kuburan Yefta, bayi yang meninggal kemarin. Dalam hatiku mulai yakin, benar itu dia; Yeftaku, kekasihku. Sekarang sesuai citanya yang dulu, sudah menjadi pendeta. Hanya saja aku tidak mengenalnya karena brewoknya yang sudah tumbuh, dulu wajahnya begitu bersih. Oh Tuhan, betapa hatiku bersyukur. Namun langkahku tertahan. Sepertinya ia telah siap berdoa.
            Aku lantas bersembunyi di balik sebuah pohon beringin muda yang rindang. Perlahan ku dengar langkah kakinya mendekat berjalan menuju ke arahku. “Oh Tuhan, apakah ia melihatku?”. Aku meringkuk di balik pohon. Jantungku berdebar kencang, sangat kencang. Ku tahan napasku, keringat dinginku mulai muncul.
            Dengan jelas ku dengar ia, pendeta itu menangis sesenggukan sambil menariki akar beringin dibalik persembunyianku. Sepertinya ia mencari sesuatu. Aku lega, ternyata aku tidak terciduk. Aku pun merasa malu mengapa harus berperan seperti mata-mata.
            Tidak lama kemudian, sesenggukan itu berubah menjadi tangisan yang menyedihkan. Begitu jelas ku dengar. Dan suara tangis itu sangat ku kenal. Tangisan yang pernah berhenti dalam bujukanku, tangisan yang pernah berhenti dalam dekapanku. Ohh yeftaku, hatimu masih tidak bisa menyembunyikan kelembutannya. Ku rasakan air mataku ikut menetes, menyatu dalam kesedihannya. Ia tidak mengucap kata. Hanya menangis saja.
            Beberapa waktu kemudian, suara tangis Yefta makin pelan hingga kemudian  menghilang. Aku bangkit dan mengintip, tidak ada siapapun lagi di balik pohon. Panik. Aku bergegas mencarinya, namun sialnya saat melewati pohon kakiku tersandung, aku terjatuh dan kepalaku nyaris terantuk sebuah nisan. Aku bangkit meringis karena kakiku memar, aku membersihkan diri . Sesaat aku tertegun, nyaris tidak percaya. Apa yang ada dihadapanku benar-benar membuatku terhenyak. Hatiku menjadi begitu terluka. Dihadapanku, Nisan yang sedari tadi ditangisi oleh pendeta itu, tepat di bawah pohon beringin muda . Nisan berukirkan salib dan nama yang tidak akan pernah ku duga sudah mati.  “Mira Tresmawati”. Namaku dengan begitu indah terukir disana. Aku tertunduk dan merasa hatiku tersayat perih. Maafkan aku Yefta. Maafkan aku Cintaku.
           
..................................
             
           


Monday, June 5, 2017

AlpenLiebe

ada hal-hal yang membuatku tersenyum saat kembali mengingat tentang dirimu
sebuah cerita pada buku asmara tanpa sampul 
kenangan sama rasanya seperti permen alpenliebe
sekali merasakan manisnya, ingin sampai menghabiskannya.
lembar demi lembar yang masih bisa ku ingat
engkau adalah hal terindah yang pernah ku miliki
dan aku tidak pernah menyesal melepaskanmu
karena aku, lelaki di ujung lupa.

seperti menyaksikan drama serial kehidupan
kita berlakon dalam cinta penuh kebencian
akhir cerita, semua menjadi sesuai permintaan hujan
yang tidak pernah menghapus jejakmu dari ingatan.

daun-daun berguguran demi musim
dan pohon-pohon kokoh menantang petir
dalam gemetar tangan aku menantang harapan
bahwa hidup memang selalu punya alasan

aku, lelaki di ujung lupa
menggenggam permen alpenliebe
dan buku itu, tergenggam di benakku
kita pernah bermain dengan waktu.

dirimu fatamorgana
aku ilusi dari aurora
yang hanya ada dalam cerita
tertulis di buku asmara.

terbit dan bersinarlah bintangku
dalam cahaya cinta yang lain.