Wednesday, March 1, 2017

Sajak-Sajak Sabana

Dalam perjalanan tangis seorang musafir, dalam isak lelah seorang pengelana
Engkau menawarkan atap teduh untuk berlindung
Dan ratap dari tatap mata,
Kepedihan luka petualang yang engkau basuh
Cinta tidaklah sebening embun
Yang selalu menuntut kesempurnaan.
Akan tetapi hati yang seluas sabana, sejauh apapun sang pengelana berlari, ia akan terbentur angin sejuk dan sepoi.
Dan ia akan bersemayam disana
Tanpa pernah berpikir untuk pergi
Ataupun kembali (Chairil Sastra/Sajak-Sajak Sabana/21 Februari 2017)

Suara-Suara Lalu

Sangkar emas yang tiada usang
Kini kau tinggal terlantar kosong
Kau kini Terbang lebih tinggi dan bertualang lebih jauh
Bebasnya kepakan sayapmu
Dalam pesona yang hanya sejenak
Beningnya suara mu di pagi
Seolah ku dengar di balik mimpi
Telah lama kau terbang pergi
Dan sangkar itu tertutup kunci. (Kumpulan Puisi dan Sajak; Suara-Suara Lalu/Chairil Sastra, 2016)

Lorong Waktu

Perhentian yang mana
Jalur dan jalan yang tiada makna
Pengharapan yang menginginkan arti
Pupus dan sudah tanpa rasa hati
Dia adalah jalan pulang untuk pergi
Tetapi andai bisa koridor ini adalah pilihan untuk kembali
Hampa hanya kata yang tak sampai
Ilusi adalah fatamorgana resah rasa.
Aku ingin itu
Kekosongan, agar ku tahu makna sedih
Dan Lorong Waktu akan menentukan masaku
(Chairil Sastra/Lorong waktu/1 Maret 2017)

Tuesday, February 21, 2017

Ironi & Satire

PEREMPUAN PERFEKSIONIS


kau menuntut Kesempurnaan
dari sekeping cermin serpihan pecahan
kau menuntut kehebatan
seekor kucing, untuk berlari seperti jaguar

seorang perfeksionis
itulah dirimu yang sebenarnya
yang telah lama bersabar untuk seorang pecundang
sementara engkau mencari seorang Ksatria
yang dengan cepat mengantar payung saat kau kehujanan
dengan kereta kencananya

bukan seorang pejalan Kaki, yang hanya punya dua kaki
bukan roda dua, sementara kau sudah basah kuyup

saat hujan kau butuh mantel, bukan payung pinjaman
saat bepergian kau butuh dudukan empuk, bukan goyang lutut
saat berliburan kau butuh angin bebas, bukan sesaknya angkot
kau butuh helm, agar kepalamu tak terantuk angkot yang tiba-tiba ngerem

kau telah lama bersabar dengan seorang pecundang
yang tidak bisa, hanya untuk memboncengmu pulang
kau telah lama bersabar dengan seorang pecundang
yang samasekali miskin dan sangat kurang

lalu ksatria datang
menawarkan kencana dan petualangan
tergiurlah engkau wahai perempuan perfeksionis
tertinggallah seorang pecundang
di balik layar paling ujung akhir
sebab sudah lama engkau bersabar

dengan seorang pecundang.

Thursday, February 2, 2017

News : Malam Refleksi Hari Relawan di GMKI Pematangsiantar-Simalungun



Mengenang 3 Tahun Gugurnya Pahlawan Benang Biru
Pada Rabu, 1 Februari 2017 segenap civitas GMKI seluruh Indonesia memperingati hari Relawan GMKI yang 3 Tahun. Sejarah ini berawal ketika GMKI sewilayah sumut dan Aceh memprakarsai program bakti sosial untuk membantu masyarakat korban pasca erupsi gunung sinabung pada februari 2014 silam . Akan tetapi ketika proses evakuasi berlangsung naas menimpa 7 relawan  GMKI yang tengah berada di lokasi erupsi dan tidak sempat untuk menyelamatkan diri. Mereka adalah Fitri Napitupulu (Ketua Cabang GMKI Kutacane), Marudut Sihite (Sekretaris Cabang GMKI Kutacane),Santun Siregar (Badan Pengurus Cabang GMKI Kutacane), Julfandi Siregar (Badan Pengurus Cabang GMKI Kutacane), Daniel Siagian (Badan Pengurus Cabang GMKI Kutacane), Asran Lubis(anggota  GMKI) beserta Mahal Surbakti (Kabid PKK GMKI Kabanjahe).
GMKI Pematangsiantar-simalungun sesiap mengadakan ibadah mengenang hari Relawan GMKI

GMKI kemudian menetapkan hari itu, 1 Februari sebagai hari untuk memperingati ketujuh Relawan GMKI yang mengabdi untuk masyarakat korban bencana. Kemudian disebut Hari Relawan GMKI.
Secara khusus, GMKI Cabang Pematangsiantar-simalungun juga mengadakan ibadah untuk memperingati Hari Relawan GMKI di Student Center GMKI Pematangsiantar-simalungun, kompleks griya pada pukul 18.00 Wib. Ibadah yang dibawakan oleh Sekbid Kerohanian GMKI PSS Jepri Simanjuntak berjalan dengan penuh hikmat dan setiap kader GMKI yang ikut serta dalam acara ibadah tersebut mengikuti ibadah dengan kekusyukan dan penuh penghayatan.
Lilin sebagai simbol pengorbanan 7 kader terbaik GMKI

Dalam ibadah dibacakan kronologi peristiwa sejarah untuk mengenangkan kembali mereka yang telah gugur di medan perjuangan. Sejarah gugurnya kader-kader terbaik tersebut harus tetap dijaga dan tetap menjadi moment yang tidak terlupakan. Dengan ditetapkannya tanggal 1 Februari menjadi Hari Relawan GMKI menjadi sebuah cerminan sebuah pelayanan yang utuh dan bersinergitas di medan layan GMKI dan sekaligus mendorong pemerintah agar tetap mempercepat pembangunan infrastruktur penanggulangan Bencana. GMKI dalam peringata Hari Relawan masih merasakan bahwa pentingnya kehadiran relawan kemanusiaan yang berkompetensi dan siap diterjunkan segera ke daerah-daerah rawan bencana.
Suasana Ibadah

Diatas Abu Vulkanik sinabung, raga mereka terbaring. Dalam menunaikan tugas untuk mengabdi pada bangsa dan negara. 7 mahasiswa yang memberikan nilai-nilai perjuangan tanpa mengenal rasa takut. Kita mengenangkan mereka saat ini. Raga mereka boleh pergi, namun tidak dengan semangatnya. Biarlah pengorbanan yang mereka berikan dapat menjadi pesan berharga yang mampu menginspirasi seluruh generasi muda Indonesia, bahwa hidup manusia ditentukan lewat nilai yang ia berikan di di dunia, seperti halnya teladan Yesus Kristus yang telah mati menebus dosa manusia” (penulis).


           

Tuesday, January 17, 2017

Puisi Romansa : Lebih dari Cinta




Engkaulah lilin dan cinta adalah nyalanya
Bara yang terus menyala meski diterpa angin dan diguyur hujan
Sinarkanlah cahayamu pada hatiku ini
Hingga akhir waktu
Engkau datang padaku bagai  fajar sehabis malam
Bersinar seperti mentari
Keluar dari mimpiku dan masuk ke dalam hidupku
Engkau Satu, engkau satu-satunya
Dulu kubilang cinta padamu tapi itu bohong
Karena yang kurasakan di hati ini lebih dari cinta
Dulu kubilang cinta padamu tapi aku salah
Karena cinta tak pernah terasa sekuat ini
Dulu kubilang cinta padamu tapi itu bohong
Dengan segenap jiwa tlah kucoba dan sia-sia
Mana mungkin kata-kata bisa jelaskan isi hatiku.

Kenikmatan surga yang begitu dalam, begitu nyata ini
Tlah kutemukan dalam dirimu
Begitu banyak alasan dalam begitu banyak jalan
Hidupku baru saja dimulai
butuh dirimu selamanya, aku butuh kau tetap di sini
Engkaulah orangnya, engkaulah orangnya
Secercah cahaya, Sebuah cahaya, Yang tak pernah sinariku
Kuingin seumur hidupku, Hidup bersamamu
Pasti ada jalan, Begitu kata semua orang
Tuk lakukan semua hal
Tapi apa bagusnya, Jika tak kumiliki dirimu
Kau tak tahu rasanya, kasih Kau tak tahu rasanya
Mencintai seseorang Seperti caraku mencintaimu
Di benakku Kulihat wajahmu lagi
Aku tahu kerangka pikiranku, Kau tak harus demikian buta
Aku buta, begitu buta,
Aku seorang pria, tak tahukah kau Siapa diriku
Aku hidup dan bernafas untukmu
Tapi apa bagusnya itu Jika tak kumiliki dirimu






Wednesday, January 11, 2017

Catatan Akhir Dari Sebuah Cerita




Kekasihku
Aku telah berkelana dikala senja kisah kita
Berpetualang dari pelukanmu ke balik malam
Berusaha menemukan teka-teki cinta
Kekasihku
Aku telah pergi dari dekapan hangatmu
Melewati puluhan senja puluhan hari
Tanpa melihat lagi indahnya pelangi

Kekasihku
Aku telah berlalu dari kecupanmu, menembus waktu
Menjauh dari pesonamu, melupakan berharganya hidupku
Olehkarena sinarmu
Aku terlena oleh keangkuhan jiwaku sendiri

Kekasihku
Maafkan aku yang kembali setelah ribuan detik berlalu
Tentang memahami untuk mengerti jiwa seorang perempuan
Aku hanyalah seorang manusia yang menyakitimu

Kekasihku
Pergilah, jika engkau ingin berpetualang
Carilah kebahagiiaan yang tidak pernah kau temukan saat bersama
Hanya satu hal yang bisa ku pastikan untukmu
Hatiku, adalah rumahmu untuk kembali

Dan Kekasihku
Di setiap ku pejamkan mata ini, aku hanya merasakanmu
Jalinan diantara kita bukanlah sebatas kata perpisahan
Aku tetap berada di jalur yang sama dan menunggumu
Jalur yang mempertemukan kita, yakni cinta.